Beralih ke Linux Untuk Melawan Ego Maling
Mayoritas orang masih memberi pendapat miring ketika diminta pendapat seputar penginstallan linux sebagai OS utama. Berdasarkan pengalaman pribadi, asumsi tersebut hanya seperdelapan benar. Saya telah menggunakan linux selama lima tahun lebih. Tidak banyak hafal perintah-perintah terminal dan juga jarang menjalankan perintah program dari sana. Semua fungsi seperti memutar video, menyalurkan hotspot dari modem, berbagi file, internet, office, editing grafis, dan lainya masih bisa saya nikmati. Sekali lagi hanya omong kosong dari orang yang belum pernah mencicipi linux yang mengatakan akan mempersulit hidupmu.
Ponsel pintar android dengan perangkat aktif didunia sebanyak 2,5 milyar unit (2019) itu juga berbasis linux. Semua orang bisa menggunakan dengan mudah tanpa membaca buku petunjuk. Begitupun sistem operasi linux di perangkat komputer hari ini. Tidak semua program harus dijalankan lewat terminal. Pembaruan terus menerus dari user interface baik itu xfce, kde, gnome, mate, cinnamon, budgie, dan lxde semakin mempermudahkan pengguna awam.
Kalau masih ada sebagian dari kita memiliki pengalaman buruk menjadi pengguna linux ada beberapa kemungkinan. Pertama ia salah memilih user interface saat melakukan instalasi. kedua, distro yang digunakan tidak sesuai dengan kemampuan dimiliki. Jika kita pemula pasti akan kesulitan apabila memilih distro untuk pengguna lanjut.
Di linux ada ratusan distro yang setiap distro diperuntukkan bagi segmen dan fungsi berbeda. Mulau dari perangkat tv, komputer personal, forensik digital, hacking, hingga server. Untuk mengatasi hal ini salah satunya dengan membuka situs distrowatch.com. Di situs tersebut menyediakan semua informasi terkait linux secara update. Selain itu ada filter khusus pencarian berdasar banyak kategori seperti spesifikasi perangkat kita miliki.
Ketiga, tidak ada sistem operasi yang sempura. Kemungkinan adanya bug pada program-program tertentu selalu ada. Solusi dari persoalan tersebut bisa kita temukan dari forum-forum distro bawaan, grub komunitas di telegram, surfing menggunakan mesin pencari, dan bertanya pada user lain lewat media sosial.
Di Indonesia kita memiliki sosok master linux paling aktif berbagi ilmu lewat media sosial yaitu Onno Widodo Purbo atau Onno W Purbo. Saya yakin masih banyak lagi user-user master lain hanya saja belum terekspose.
Memasyarakatkan penggunaan sistem operasi linux ditengah suburnya budaya pembajakan saya akui masih sulit. Mengutip data sofpedia Pada tahun 2018 periode bulan Mei-Juli microsoft melakukan riset dengan membeli banyak perangkat komputer secara random di kawasan pasar Asia. Hasilnya 100 persen PC dari Vietnam, Korsel, Thailand, dan Malaysia terinstall sofware curian. Di India 91 persen licensi digunakan palsu. Di Indonesia juga sama, 90 persen sistem operasi PC dijual berlisensi palsu. Dalam hitungan rata-rata sekitar 83 persen PC beredar di pasar Asia menggunakan sofware bajakan.
Tindakan pencurian apapun bentuknya tetaplah tidak bisa dibenarkan. Ketidakmampuan secara finascial seharusnya bukan diatasi dengan tindakan kejahatan, tetapi usaha secara legal. Jika perlahan-lahan tidak ada tekanan moral bahwa itu perbuatan salah kegiatan pembajakan akan terus terjadi dan menjadi pemakluman umum. Padahal ketika seseorang membajak sistem operasi ia tidak akan berhenti disitu. Dapat dipastikan akan terus membajak sofware-sofware lain untuk dipasangkan pada perangkat komputernya.
Berhenti menggunakan berbagai sofware bajakan dan bermigrasi ke linux adalah sebuah pilihan bijak. Dengan begitu kita telah ikut andil menekan monopoli raksasa teknologi seperti microsoft. Mungkin microsoft saat ini sengaja membiarkan terjadi pembajakan produknya. Tujuanya agar banyak orang tergantung pada produk miliknya. Ketika sudah pada masanya, perusahaan akan melakukan gugatan hukum. Itu bukan sesuatu yang mustahil dan sulit dilakukan.
Keuntungan memasyarakatkan penggunaan linux sebagai sistem operasi PC dalam lingkup lebih besar bisa mengikis ketimpangan akses terhadap teknologi. Harga-harga perangkat komputer dipasar akan jauh lebih murah tanpa sistem operasi. Akhirnya akan memungkinkan menjangkau semua kalangan untuk membeli.
Pengikisan terhadap ketimpangan akses teknologi akan melahirkan distribusi pengetahuan lebih banyak dan merata. Jangan paranoid ketika banyak orang mulai pandai.
Pengetahuan itu bukan racun yang menghancurkan dunia. Pengetahuan adalah obat bagi kerusakan dunia yang dibuat oleh korporasi-korporasi serakah.
Kita tidak ingin meninggalkan warisan buruk bagi generasi selanjutnya. Maka dari itu apabila belum mampu berbuat lebih baik dan ada orang lain sedang mencoba masuk ke jalan tersebut sebaiknya ikut mendukung. menghalang-halangi adalah perilaku setan.
Terlepas dari kondisi perekonomian hari ini kita harus optimis bahwa masa depan akan lebih baik. Untuk menyongsong masa itu tidak bisa dengan berpangku tangan. Hari ini harus mulai membangun pondasi secara baik dan dengan cara yang benar.
Pikiran-pikiran picik, perilaku curang, dan tidak menghargai karya orang lain harus dihilangkan. Tindakan-tindakan tersebut seolah membebaskan, tetapi sebenarnya tembok besar untuk seseorang berkembang secara mandiri dengan kuat.
Sebagai contoh, ketika kita bekerja di industri kreatif menggunakan produk karya orang lain tanpa seijin harus siap-siap menerima tuntutan pencurian hak kekayaan intelektual. Mungkin tidak langsung, itu bisa terjadi kapanpun ketika terungkap oleh pemilik. Entah itu berupa font, tulisan, gambar, sketsa, music, dsb.
Berbagai tuntutan ini tercipta karena sistem pembagian kerja dunia telah berubah. Banyak orang-orang telah menggantungkan hidup sepenuhnya dari penjualan lisensi-lisensi karya kreatif. Negara-negara maju mengakui profesi mereka dengan memberi jaminan perlindungan hukum.
Kebebasan penggunaan sebuah lisensi bajakan hanya ilusi semu ketika digunakan secara privat. Begitu ia dibawa ke luar dengan area panggung persaingan lebih luas sudah tidak aman. Sebagus apapun kreasi dihasilkan apabila dibuat dengan perangkat ilegal statusnya tetap produk curian. Vendor profesional tidak akan pernah mengambil resiko urusan dengan penegak hukum. Jangan sampai itu terjadi pada kita. Sudah susah payah berkarya namun terhalang oleh lisensi.
Surabaya, 31 Mei 2020

Komentar
Posting Komentar