Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Sebuah Sikap Untuk Pandemi Virus Corona Jenis Baru

Gambar
ilustrasi Kita semua pada dasarnya tahu dan mengerti betul bahwa kematian pasti akan datang menjemput kepada semua makhluk hidup. Adanya kepanikan massal di media sosial terhadap ancaman virus corona jenis baru seharusnya tidak perlu terjadi. Toh sebenarnya disekitar kita sudah ada kondisi serupa. Seperti penyebaran penyakit menular HIV AIDS (Human Immunodeficiency Virus Infection and Acquired Immune Deficiensy Syndrom). Sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin yang berhasil menyembuhkan.

Ruang Media Sosial Kita Hari Ini

Gambar
Kehadiran media sosial telah mereformasi cara berkomunikasi masyarakat dunia. Arus informasi tidak lagi mengalir searah. Setiap orang selain mengonsumsi informasi juga dapat dengan mudah mereproduksi, memodifikasi, dan mendistribusikan secara cepat. Media sosial telah membuka lebar panggung ruang kesempatan mengekspresikan diri tanpa terkecuali. Mulai dari konten serius berbentuk aktivisme politik, mengabarkan suatu kejadian, hiburan komedi, panduan tutorial, persoalan religi sampai hal remeh temeh terwadahi. Kemudahan akses dan pengoperasian serta kemampuan daya jangkau menjadi kombinasi sempurna merefleksikan diri. Disini kita lebih mudah mengutarakan kejujuran siapa diri kita sesungguhnya. Arena melepas topeng-topeng peran dijalankan ditengah masyarakat.

Sedikit Mengulas Kenakalan akan Takdir dan Kematian

Gambar
Judul buku          : Rabu Rasa Sabtu Penulis                  : Arswendo Atmowiloto Penerbit                : PT Gramedia Pustaka Utama Jumlah Hal             : 240 Genre                     : Novel Ini merupakan novel karya almarhum Arswendo pertama yang saya baca. Tidak ada keterangan tahun diterbitkan atau seri cetakan keberapa. Hanya di bagian akhir cerita tertulis ”Selesai, Desember 2013.” Dari sini bisa diketahui bahwa buku ini ditulis sekitar empat setengah tahun sebelum ia meninggal.

Anomali PSBB di Surabaya

Gambar
Sejak Selasa, 28 April 2020 Surabaya menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Langkah itu diambil setelah jumlah korban terinfeksi virus Covid-19 kian bertambah banyak. Bagi saya yang kebetulan sedang numpang domisili di  Surabaya Selatan, melihat wacana itu riuh di media namun kurang mendapat atensi masyarakat. Dugaan saya masyarakat acuh karena tidak tahu atau diberi sosialisasi dampak pengaruh dari pemberlakuan PSBB selain penutupan jalan. Sikap pokokke wani demikian menjadi konyol, ketika akhirnya mengesampingkan keselamatan diri ketimbang mencari jalan selamat bersama.

Si Hitam dalam Kenangan

Gambar
Di pagi yang cerah si Hitam dan Mochi berjemur di jalan samping kost. Mereka berdua sepantaran, atau mungkin malah saudaraan. Saya tak tahu, tapi yang jelas mereka beda nasib. Si Hitam hidup sebagai kucing liar. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengais makan dari belas kasih penghuni kost, sedangkan si Mochi adalah kucing adobsi rumahan.

Berwisata ke Mini Agrowisata Surabaya

Gambar
Sulur-sulur akar tanaman yang menyambut pengunjung di jalan masuk Liburan akhir pekan bagi masyarakat perkotaan sudah menjadi bagian dari kebutuhan. Masalah tekanan pekerjaan dan tumpukan emosi dari jalanan macet penuh polusi membuat jiwa cepat lelah. Apabila dibiarkan menumpuk akan menimbulkan stress tersendiri. Pergi berwisata menjadi obat mujarab sambil mengambil jeda nafas panjang.

Nolepchan

Gambar
Nolepchan itu nama kucing kampung belang tiga. Kata orang jawa kucing telon. Bulu nolep berwarna putih, orannge, dan bercak hitam. Cukup melihat fotonya sudah gemas. Seolah-olah ingin cepat  nguyel-ulel atau meremas kepala tembem itu. Kelebihan nolepchan tak sebatas bentuk fisik. Ia pernah melakukan serangkaian reaksi tak terduga untuk seekor kucing kampung.

Selayang Pandang

Gambar
Bissmilllahirrahmanirrohim Assalamu'alaikum Wr. Wb Ditengah pembatasan sosial bersekala besar (psbb) oleh pemerintah saya mencoba untuk kembali belajar menulis. Keinginan tersebut tiba-tiba bangkit begitu saja. Walau secara kualitas mungkin rendah, tetapi saya pikir harus tetap disalurkan. Kalaupun ada bumbu-bumbu sedikit narsisme mohon dimaklumi.

Mengingat Kehangatan Lebaran 2019

Gambar
Acara sesi foto bersama generasi kedua dari keluarga besar Toikromo dan Ronem di halaman rumah kami. Dari paling tua sebelah kiri Saimun, Samin, Janem, Jakun, Wakijem, Soimun, Pairun dan Paimin.      Tahun 2019 suasana lebaran di kampung sangat meriah. Ini karena dalam tempo dua hari berturut-turut H+3 dan  H+4 rumah kakak dan orang tua kami menjadi tuan rumah arisan keluarga. Ya benar, arisan keluarga. Ide ini terbentuk dari kesulitan bersilaturahmi waktu halal bi halal bersama seluruh anggota keluarga besar. Sebelumnya tanpa ada kesepakatan ikatan waktu dan tempat bersama anggota keluarga yang sudah datang jauh-jauh kadah harus kecewa karena orang yang akan ditemui tak jumpa. Dengan Adanya arisan keluarga selain membentuk kepastian waktu dan tempat juga memantik kepentingan sampingan lain. Solusi ini sangat efektif bisa berjalan sesuai harapan. Terutama untuk keluarga besar kami yang berjumlah sekitar 70an orang lebih.

Baik

Gambar
Semenjak kecil manusia sudah diperkenalkan nilai-nilai kebaikan universal. Seperti, mencuri itu tidak baik, kita harus bersikap ramah terhadap sesama, menyayangi binatang, tidak merusak alam dan masih banyak lagi. Saya pikir hari ini semua orang juga masih setuju kalau anaknya diberi pengajaran demikian. Tujuanya satu, mendidik manusia berbudi baik. 

Perjodohan Bukan Takdir

Gambar
     Perjodohan akan selalu memiliki dua sisi. Sebagai sebuah jalan alternatif atau menjadi menjadi alat superioritas hegemoni. Untuk yang pertama perjodohan memainkan peran sebagai penolong. Khususnya teruntuk orang-orang memiliki impotensi komunikasi. Keadaan tersebut menimbulkan kegagalan dalam membangun relasi. Terutama dengan lawan jenis.