Si Hitam dalam Kenangan
Di pagi yang cerah si Hitam dan Mochi berjemur di jalan samping kost. Mereka berdua sepantaran, atau mungkin malah saudaraan. Saya tak tahu, tapi yang jelas mereka beda nasib. Si Hitam hidup sebagai kucing liar. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengais makan dari belas kasih penghuni kost, sedangkan si Mochi adalah kucing adobsi rumahan.
Perbedaan strata keduanya tidak menjadi sekat berarti bagi mereka. Hampir setiap kali Mochi keluar sudah ada si Hitam bersiap menemani. Perjumpaan tersebut akan diisi hal-hal menyenangkan. Saling bekejaran, guling-guling di tanah, atau sekadar rebahan di bawah sinar matahari.
Bagi kucing liar seperti si Hitam kesepian akan kasih sayang adalah permasalahan harus dihadapi sehari-hari. Ia sadar tidak semua manusia menyukai kucing. Salah-salah merajuk tendangan, pukulan, dan siraman air ia dapat. Agar rasa sayang itu itu tak benar-benar kering ia tak pernah menganggap kucing liar lain sebagai musuh abadi.
Biar saja kemaren bertengkar berebut makanan hari ini akan kembali berbaikan. Si Hitam mengerti kalau setiap keributan dilahirkan oleh keadaan. Kelaparan telah menuntun kompetisi sebagai bentuk reaski insting alami.
Beruntung si Hitam menemukan sahabat sekaligus guru. Adalah Moshi-Moshi. Ia mengajari banyak hal cara bertahan hidup sebagai kucing liar hidup di sekitar rumah kost. Seperti teknik jaga jarak memakirkan diri dan beristirahat di depan pintu kost tanpa masuk lebih dalam sambil menunggui penghuni kos istirahat. Cara itu pulalah yang telah membuat hati saya luluh berpaling memperhatikan kucing-kucing sekitar kost.
Tiba-tiba kesedihan menghampiri hati saya. Tepatnya sekitar akhir bulan April. Si Hitam tiba-tiba menghilang. Saya sadar ia hilang setelah tak muncul bareng Moshi-Moshi di depan pintu kamar tiga malam berturut-turut. Padahal nongkrong bareng Moshi-Moshi sudah seperti rutinitas bagi si Hitam. Esoknya saya keliling lingkungan sekitar untuk mencari tidak ketemu.
Dia sudah benar-benar pergi. Barangkali ke akhirat atau bisa jadi ada orang baik memungut untuk diadobsi. Ditengah terpaan rasa khawatir ada sedikit rasa senang, karena sebelum kepergianya saya sempat memberi makan sereal kesukaan si Hitam. Sereal seharga 24.000 tanpa label merk. Lebih mahal 4.000 rupiah dari sereal Oricat yang biasa aku berikan.
Semoga kepergianmu diiringi tercerabutnya segala kepahitan nasib kau alami. Jika ada sedikit tumbuh rasa sayang dan rindu, tak dapat kupungkiri. Seperti kata Joko Pinurbo, setiap perjumpaan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Selamat jalan si Hitam.







Komentar
Posting Komentar