Sedikit Mengulas Kenakalan akan Takdir dan Kematian



Judul buku         : Rabu Rasa Sabtu
Penulis               : Arswendo Atmowiloto
Penerbit             : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Hal         : 240
Genre                 : Novel

Ini merupakan novel karya almarhum Arswendo pertama yang saya baca. Tidak ada keterangan tahun diterbitkan atau seri cetakan keberapa. Hanya di bagian akhir cerita tertulis ”Selesai, Desember 2013.” Dari sini bisa diketahui bahwa buku ini ditulis sekitar empat setengah tahun sebelum ia meninggal.

Melalui cerita ini jelas sekali jika Arswendo ingin memberikan berbagai pertimbangan dan gugatan pandangan norma sosial terhadap pembaca. Terutama terkait dengan keimanan, moralitas, dan kritik sosial. Kira-kira sejauh mana keimanan dalam diri seseorang hadir dan mampu memberi jawaban atas bayang-bayang kematian. Seperti bagaimana memandang sebuah vonis waktu kedatangan maut.

Jika semua orang pada dasarnya mati, sebenarnya manusia sedang berjalan menuju kematian atau berjuang melawannya? Bagian menyentil hal ini menjadi begitu menarik. Karena terkait langsung dengan masa depan semua orang. Kuasa ilahi. Begitulah sepatutnya orang beriman memandang kematian. Tetapi justru karena sifat kerahasiaan pula akhirnya membangkitkan kenakalan berupa rasa ingin tahu, tanpa ingin mencoba.

Secara logika jangkauan manusia terhadap misteri kematian memang terbatas. Maka dari itu bila Arswendo memilih memainkan vonis waktu akhir kehidupan seorang anak manusia dibanding mengembangkan alur mistis pasca kematian. Proses dialami ketika datang kematian dan pasca kematian tak perlu lagi banyak disoal. Kita semua mengerti karena agama telah banyak bicara sebagai otoritas resmi penyampai pesan tersebut. Jika nekat dipaksakan, hasilnya mungkin akan berbuah candaan. Layaknya buku ”Pedihnya Siksa Neraka.”

Perbincangan akan kematian masih banyak berputar pada azab, hukuman, dan kenikmatan. Ranah kenikmatan surgapun juga tak benar-benar memberi kenyamanan. Sebab nanti akan berbalik pada pilihan melawan ego kebebasan diri. Kitab suci dengan serangkaian aturan-aturan langit menegaskan itu.

Pikiran bebas ketika mencoba memikirikan secara kritis akan benar-benar berada pada titik buta. Apakah kehidupan dan penghidupan sepenuhnya ditangan manusia atau manusia hanya sebatas menjalankan skenario telah dibuat Ilahi?

Kalau soal ketakutan terbesar manusia jawabanya jelas penderitaan. Wujudnya mulai rasa sakit, kelaparan, jatuh miskin, kehinaan, hingga ketakmampuan diri. Saat kita menjalani kehidupan di dunia ancaman potensi mengalami semua itu ada. Kalau kurang beruntung kadang bisa dobel atau lebih. Namun setelah kematian yang ditawarkan cuma satu. Ancaman kepedihan neraka. Kiranya pikiran demikian melatar belakangi pertanyaan banyak orang yang disini diwakili oleh Wayang Supraba (halaman 191).

Sekarang kondisinya dibalik. “Apakah hidup lebih bermakna daripada kematian, meskipun tersiksa?” Memang penulis tidak menyebutkan jawaban pasti. Kendati demikian pada halaman 52 samar-samar dimunculkan jawaban dari tokoh Jalno. Ia memberikan semacam petunjuk.  Paling penting dari semua keadaan berada pada kesanggupan kita menjalani. Seperti petikannya berikut;
”kecemasan akan melahirkan banyak kecemasan berikutnya. Bahkan hal yang baikpun bisa mencemaskan.”

Dari sini secara tidak langsung membuka peluang jawaban lain akan esensi kehidupan manusia. Panjangnya umur tidak menentukan kualitas hidup. Lebih tepatnya darma baik yang ia tanam. Sebaliknya, usia mempengaruhi peluang mengubah keadaan jadi lebih baik. Kita tidak bisa langsung terjun memilih pada salah satu sisi. Umumnya ada banyak faktor lain yang mengikat manusia dalam menjalankan setiap keputusan. Hanya saja semua memiliki kesepatan sama berjuang menentukan pilihan terbaik.

Mengenai bentuk moralitas dan kritik di novel ”Rabu Rasa Sabtu” ini begitu menggelitik. Terutama saat pembaca diajak mencicipi kenikmatan sensual. Ini benar-benar membangunkan imajinasi liar. Sensasi itu hadir. Cukup untuk mengantarkan pada titik ketegangan tertentu.

Jangan salah dipahami, menurut saya semua masih dalam tahap wajar. Bahasa vulgar yang dibentuk tak mengobral erotisme brutal layaknya cerita sex murahan di internet. Bumbu, bumbu demikian agaknya memang memicu perhatian tersendiri dan akan melekat dalam ingatan. Apalagi ditengah kultur pengaturan ketat sex oleh masyarakat.

Saya berharap jika ada pembaca yang kebetulan memiliki preferensi pengalaman sexsual tidak biasa bisa bercerita. Apakah penggambaran penerimaan rasa diterima Wayang saat bersama Neneh benar atau dilebih-lebihkan? Kemudian jika orientasi itu tidak mungkin hilang bisakah dialihkan?

Kesimpulan didapat secara garis besar novel ini bagus. Alur cerita dibangun tidak menjemukan. Bahasanya mudah dipahami dan cepat dimengerti. Sebagai pembaca saya menerima kejutan-kejutan baru. Plot dimainkan membuat cerita tetap terasa segar sampai akhir. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca sampai tuntas. Sebagai catatan meski termasuk novel kategori direkomendasikan, sebaiknya tidak diberikan kepada mereka yang masih dibawah umur. Ini novel dewasa.

Surabaya, 17 Mei 2020

Komentar