Sebuah Sikap Untuk Pandemi Virus Corona Jenis Baru

ilustrasi

Kita semua pada dasarnya tahu dan mengerti betul bahwa kematian pasti akan datang menjemput kepada semua makhluk hidup. Adanya kepanikan massal di media sosial terhadap ancaman virus corona jenis baru seharusnya tidak perlu terjadi. Toh sebenarnya disekitar kita sudah ada kondisi serupa. Seperti penyebaran penyakit menular HIV AIDS (Human Immunodeficiency Virus Infection and Acquired Immune Deficiensy Syndrom). Sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin yang berhasil menyembuhkan.



Jika alasannya bertumpu pada kematian yang begitu cepat, seharusnya kita juga menerima fakta bahwa hidup dengan penyakit belum ada obat adalah siksaan. Seperti dikatakan Dr. Ryu Hasan dalam utas twitnya tanggal 26 Desember 2020, bahwa wabah virus corona jenis baru bukanlah ujian pertama bagi manusia. Sejarah mencatat populasi manusia berulangkali menghadapi ancaman oleh pesebaran virus, bakteri, dan patogen.

Sebagai perbandingan atas berbagai wabah pernah menimpa dunia mari kita buka data.
  1. Black Death atau wabah hitam membunuh 75-200 juta jiwa orang Asia dan Eropa di abad 14. Di abad 19 wabah ini kembali menyerang Cina dan India dengan jumlah korban tewas 10 juta jiwa. Belum berhenti sampai disitu di tahun 1900-1925 wabah ini melanda Australia dengan jumlah korban 1000 jiwa.
  2. Flu Spanyol (1918) diperkirakan telah menular kepada 500 juta manusia di seluruh dunia dengan angka kematian 50-100 juta jiwa.
  3.  Virus Cacar abad 16 di Meksiko yang menewaskan sekitar 8 juta jiwa.
  4.  Sars (2003) menginfeksi 8.098 orang di seluruh dunia dan menewaskan 777.
  5.  Mers (2012) 22 orang meninggal dunia dari 44 kasus terjadi.
  6.  Virus Ebola dengan tingkat kematian 90% di Afrika Barat (2014-2016) menelan korban 11.000, dan kembali menyerang di Kongo 2019 dengan koban lebih dari 1600 orang. Tentu ini tidak mencakup data semua wabah di dunia. 
Hanya saja yang perlu digaris bawahi dari sederet data-data diatas adalah peluang untuk sembuh bagi korban selalu ada. Optimisme ini sangat berdasar bila dikaitkan dengan penyakit Corona jenis baru. Corona jenis baru ini bukanlah virus baru. Masih serumpun dengan Sars. Kenyataan perkembangan ilmu kedokteran saat ini berkembang pesat harusnya bisa menekan kehebohan masyarakat.

Beberapa argumentasi tentang virus corona jenis baru di media sosial membawa saya pada apa yang diungkapkan oleh Stanley Cohen. Sosiolog asal Afrika Selatan tersebut melalui bukunya "Folk Devils and Moral Panic" menggambarkan bagaimana publik di Inggris bereaksi terhadap perseteruan kelompok mod (moderenis) dan roker di tahun 1960-an dan 1970-an.
Kejadian tersebut diteliti dan melahirkan sebuah teori disebut dengan kepanikan moral. Secara definisi singkat kepanikan moral merupakan sebuah ketakutan yang meluas, melibatkan perasaan irrasional, bahwa seseorang atau sesuatu dianggap merupakan ancaman terhadap nilai-nilai, keamanan, dan kepentingan komunitas atau masyarakat pada umumnya.

Faktor lain mengapa publik di media sosial sangat reaktif terhadap virus corona jenis baru ini adalah sebagai bentuk kemuakan dan amarah. Khusus di Indonesia bagaimana rakyat masih segar ingatanya ketika kapal Coast Guard Cina ramai-ramai mengamankan pencurian ikan besar-besaran di perairan Natuna awal bulan Januari 2020. Ditambah belum meredanya sentimen tuduhan deIslamisasi penyiksaan muslim Uygur oleh pemerintah Cina negara asal virus corona jenis baru.

Kondisi serupa juga terjadi di negara Cina sendiri. Raymond Zhong pada artikelnya ”As Virus Spreads, Anger Floods Chinese Social Media” di The New York Times (27/01/2020) menuliskan berbagai ekspresi kemarahan publik yang membanjiri media sosial Cina. Utamanya terkait dengan monopoli narasi informasi tentang wabah virus corona jenis baru. Olok-olok dan makian kepada pejabat pemerintah terutama president Xi Jinping juga tak terbendung walau lewat sarkasme. Caranya merubah nama Xi menjadi Trump.

Sam Pham seorang mahasiswa universitas Manchester menuliskan di kolom opini The Guardian bahwa ia bersama temannya yang bermata sipit dengan adanya kejadian wabah virus corona jenis baru ini telah menerima perlakuan rasis. Orang-orang mulai menjauhi dan tidak sungkan berbicara di depannya bahwa ia penular epidemi.

Hoax, misinformasi, atau mispersepsi dalam rangkaian alur pesan sangat mungkin terjadi. Akan sangat bahaya ketika menyebar dan dipercayai khalayak. Pasti akan sangat merugikan pihak tidak berdosa. Contoh kecil adalah bagaimana wabah virus ini di kaitkan dengan Azab karena negara Cina telah mendzolimi muslim Uyghur atau mereka telah menerima bala dari 5 juta dukun yang mengaku siap berperang karena konflik natuna.

Konspirasi paling terkini virus itu bagian dari senjata biologis Cina yang kebetulan bocor. Hampir dapat dipastikan berbagai narasi seperti ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Saya menganggap bahwa ini lebih dekat dengan fitnah.

Sebagai sesama pengguna media sosial sebaiknya kita tidak merespon informasi-informasi demikian. Karena selain akan menutupi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya juga berpotensi menimbulkan bias yang menggiring pada keyakinan bukan lagi berpijak pada kenyataan.

Kepada pemerintah daerah dan pusat kita sebagai warga negara harus terus aktif melakukan kritik. Apalagi mengingat sampai hari ini belum diberlakukannya Travel Warning untuk turis asal Cina. Supaya kekonyolan seperti upacara penyambutan Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno saat menerima 150 turis asal Cina pada (26/01/2020) tak perlu terulang. Hasilnya pemerintah terkesan menjadi begundal Cina dan abai terhadap psikologi masyarakat.

Keterbukaan informasi membuat telah membuat masyarakat kita tidak mudah dibodohi. Klaim pemerintah mereka telah lolos termo scanner dapat dengan mudah dibantah. Dimana alat tersebut tidak efektif menjamin seseorang bebas dari virus.

Jika terus dibiarkan bukan tidak mungkin gerakan anti pemerintah semakin menguat. Karena pemerintah dianggap telah mengabaikan keselamatan warganya demi mengejar devisa.

Sebagai negara menggunakan agama untuk pondasi berbangsa sudah selayaknya mementum ini digunakan untuk kampanye (syiar) menebalkan iman. Ketakutan yang tengah berselimut ditengah masyarakat haruslah disandarkan kepada Tuhan bukan harapan kosong. Ketaatan iman akan menjadi solusi menghindarkan dari perasaan stress dan menjaga keteraturan sosial.

Solusi atas epidemi virus corona jenis baru memang belum ditemukan. Tetapi, solidaritas sosial kita semua berguna untuk menopang dan support semangat hidup bagi korban atau mereka yang terjebak di wilayah wabah. Tiada alasan memupuk benci atas sistem pemerintahan komunis Cina atau kejorokan makanan mereka konsumsi. Musibah ini bisa menimpa siapa saja. Mari kita kuatkan tali persaudaraan bahu membahu salin bantu atas nama kemanusiaan.

Surabaya, 28 Januari 2020

Komentar