Perjodohan Bukan Takdir
Perjodohan akan selalu
memiliki dua sisi. Sebagai sebuah jalan alternatif atau menjadi menjadi alat
superioritas hegemoni. Untuk yang pertama perjodohan memainkan peran sebagai penolong. Khususnya teruntuk orang-orang memiliki
impotensi komunikasi. Keadaan tersebut menimbulkan kegagalan dalam membangun relasi. Terutama dengan lawan jenis.
Impotensi komunikasi lebih dibangun atas perasaan tidak mengenal diri sendiri. Seperti kemunculan rasa takut dipandang aneh,
terlalu ingin mendominasi setiap wacana, kurang bisa adaptasi. Kondisi tersebut akan membuat orang-orang sekeliling tidak nyaman. Dengan adanya praktik perjodohan akhirnya menjadi sesuatu
yang logis demi menolong keadaan.
Fakta kedua
perjodohan bagian dari alat praktik superioritas hegemoni. Solusi cepat mendorong seseorang ke tahap pernikahan lewat pengesampingan rasa. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat manusia bukan seonggok daging berjalan. Seorang anak manusia akan selalu tertaut pada sebuah rasa, karsa, dan cipta atau biasa disebut serbagai tridaya. Salah satu metamorfosanya dikenal dengan istilah "cinta". Hadirnya perjuangan atas nama cinta pula narasi-narasi besar kehidupan manusia
tercipta. Pergolakan kisahnya telah banyak ikut andil menegakkan kebenaran.
Kisah Layla dan
Qais, Romeo dan Juliet, hingga Siti Nurbaya dan Samsul Bahri
membuktikan relasi bernama cinta memiliki kesucian. Apabila pada waktu tertentu diputus akan menimbulkan
tragedi. Contoh paling kecil terjadi kepada kita sendiri. Saat membaca roman posisi kita hakekatnya bukan siapa-siapa. Satu-satunya kepentingan adalah ingin tahu. Tetap saja kesedihan itu tiba-tiba ikut larut dalam perasaan sewaktu romatisme gagal terwujud.
Ada persepsi tidak bisa diterima kala kegagalan tercipta dari
tangan-tangan jahat tokoh lain.
Beruntunglah bagi
mereka yang membaca dan pernah tahu kisah-kisah romantisme anak manusia. Dari sana kita belajar bagaimana menghargai perasaan manusia sejati. Kelak memori ini mengantarkan pada
pondasi awal bagaimana kedepan membangun kemanusiaan lebih beradab. . Kata Annelies dalam film Bumi Manusia berpihak pada pilihan sendiri
itu diperlukan karena ”supaya tak ada lagi air mata dan derita yang
tumpah.”
Sekarang pertanyaanya
mengapa praktik perjodohan paksa masih terus dilakukan? jawabanya sangat sederhana. Mereka para aktor-aktor yang berperan sedang memperjuangkan kepentingannya sendiri. Ia tak akan pernah benar-benar
mengenal kehidupan pribadi korban. Kalaupun terjadi kemalangan kemudian hari,
akan mudah lepas tangan. Sebaliknya, jika itu berhasil akan bersuara lantang. Menasbihkan diri
menjadi pihak paling berjasa. Orang lain dijadikan wayang dari
kehendaknya tentang kebahagiaan hakiki yang utopis.
Pandangan lain cukup umum anggapan bahwa kehidupan tak akan berakhir hanya
karena perjodohan. Bahkan mungkin akan membaik atau minimal dapat mempertahankan kedudukan status sosial keluarga saat ini. Konon sebagai ikhtiar dalam
rangka menepis kemungkinan jatuh ke dalam jurang kesengsaraan.
Adanya perjodohan juga melahirkan kalkulasi lain lebih terukur dari sisi keuntungan
maupun kerugian. Beda dengan hubungan atas nama
cinta yang dipandang seperti melempar mata dadu. Penuh
ketidakpastian dan ada seribu satu kemungkinan.
Bagi saya pribadi
mengenai perjodohan paksa ini bukan perkara situasional yang alasanya dapat
dicari-cari kebenaranya. Perlu digarisbawahi meski semuanya diawali dari
kata saling memperkenalkan. Tapi alurnya jelas. Garis finis telah dipastikan "tercapai" lewat Tresno jalaran
soko kulino. Kalah dan hanyut dalam keadaan ”yang
diciptakan”. Kondisi normal baru tercipta diatas perasaan alami.
Kejahatan perampasan hak menentukan
pilihan hati sendiri tersebut
harus terus
dilawan. Ini adalah pekerjaan sosial bersama. Memang pilihan
perlawanan ini adakalanya salah. Tetapi justru
disitulah letak ujian
kemanusiaan seorang manusia. Tanpa
sudi belajar menerima dan memahami, apa beda dengan Iblis? Bukankah Iblis
menolak bersujud atas keberadaan manusia karena hanya melihat sisi
potensi kebiadaban sifat manusia. Tidak mau tahu tentang bagaimana
manusia mampu meraba-raba kembali menuju arah yang benar.
Hidup
menjadi manusia merupakan sebuah anugerah luar biasa dari Tuhan. Lewat apa yang
dinamakan cinta kita bisa menemukan bagian
diri kita yang lain (belahan jiwa) lewat pengenalan rasa. Tidak
secara kebetulan dan bukan pula tercipta karena keadaan. Pasangan
manusia bukan sekadar kecocokan kelamin, tetapi ia mencocokkan
kesesuaian kepribadian paling rumit. Dalam bahasa sederhananya, cinta tumbuh dari preferensi frekuensi yang sama.
Itulah bedanya dengan makhluk lain.
Surabaya,
13 Mei 2020

Komentar
Posting Komentar