Mengingat Kehangatan Lebaran 2019
![]() |
| Acara sesi foto bersama generasi kedua dari keluarga besar Toikromo dan Ronem di halaman rumah kami. Dari paling tua sebelah kiri Saimun, Samin, Janem, Jakun, Wakijem, Soimun, Pairun dan Paimin. |
Tahun 2019 suasana lebaran di kampung sangat meriah. Ini karena dalam tempo dua hari berturut-turut H+3 dan H+4 rumah kakak dan orang tua kami menjadi tuan rumah arisan keluarga. Ya benar, arisan keluarga. Ide ini terbentuk dari kesulitan bersilaturahmi waktu halal bi halal bersama seluruh anggota keluarga besar. Sebelumnya tanpa ada kesepakatan ikatan waktu dan tempat bersama anggota keluarga yang sudah datang jauh-jauh kadah harus kecewa karena orang yang akan ditemui tak jumpa. Dengan Adanya arisan keluarga selain membentuk kepastian waktu dan tempat juga memantik kepentingan sampingan lain. Solusi ini sangat efektif bisa berjalan sesuai harapan. Terutama untuk keluarga besar kami yang berjumlah sekitar 70an orang lebih.
Berhubung menjadi kami tuan rumah, seluruh anggota keluarga menjadi lebih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Karena sistem silaturahmi keluarga besar ini "meminta" semua anggota keluarga untuk saling bertemu. Sedang urusan penyangga jalanya acara seperti kegiatan dapur dipercayakan pada orang luar. Hal ini beda dengan sistem acara arisan keluarga kakak sehari sebelumnya. Semua urusan berkaitan dengan acara akan dikerjakan bersama-sama oleh anggota keluarga internal. Sepanjang jalanya acara tidak melibatkan orang luar. Jika kebetulan rumahnya dekat biasanya sehari sebelum acara sudah berdatangan anggota keluarga-keluarga lain membantu.
Acara arisan kekuarga besar seperti ini biasanya dikemas dalam bentuk semi formal dengan rundown acara bertahap atau secara informal. Sebelumnya di pertemuan pertama tahun lalu (red: 2018) jalanya acara dibuat semi formal. Perwakilan keluarga pak dhe Saimun yaitu Yudi memberi sambutan dan memandu tahap demi tahap sesi acara. Sedangkan saat dirumah kami acara berlangsung informal. Semua diberi kebebasan berhalal-bihalal atau bercengkerama mengingat tidak semua anggota keluarga datang bersama. Acara benar-benar berjalan mengalir alami. Ditengah ketidak teraturan itu saya melihat masing-masing orang memanfaatkan waktu mereka. Tidak ricuh, suasana tercipta lebih hangat. Walau sesekali saudara yang kebagian mengurusi arisan harus mengeraskan suara ketika mengumpulkan uang dari nama-nama peserta arisan.
Sayang, kemeriahan waktu itu ada sedikit kekurangan karena tidak dihadiri oleh kang Jan. Ia adalah kakak lelaki tertua di keluarga kami. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya alasan ketidakpulanganya katanya ketidakcukupan anggaran sampai sebulan setelah lebaran untuk membayar kredit bank. Kalau ditinggal pulang kampung kebun sawit beserta urusan lainnya tidak ada yang menghandle. Maklum, meski sudah berusia cukup dewasa kakak saya ini belum menikah. Semua dilakukan sendiri. Sedang soal persis alasan ketidakcukupan uang saku tadi datang dari hitung-hitungan pengeluaran minimal sebesar 15 juta rupiah sekali pulang kampung. Ongkos tersebut membengkak karena pemerintahan Jokowi tahun itu gagal mengendalikan kartel penjualan tiket oleh maskapai pesawat. Nominal itu jauh lebih mahal 15 kali dari rata-rata biaya dikeluarkan pemudik asal Surabaya.
Tahun ini bila menurut perhitungan sebelumnya. Pulang setiap jeda satu lebaran kang Jan akan mudik. Namun, karena kondisi sedang terjadi wabah Corona Virus 19 terpaksa dibatalkan.
Waktu-waktu kebersamaan bersama keluarga meski singkat tetapi banyak mendatangkan kebahagiaan. Kita bisa saling melepas rindu dan melupakan sementara urusan-urusan lain. Terutama bagi orang-orang hidup di perantauan. Pulang kampung benar-benar membangun suatu nostalgia. Kesempatan libur panjang lebaran idul fitri memberi kelonggaran lebih. Sampai akhirnya ritual mudikpun tak hanya milik umat Islam. Acara mudik di Indonesia telah jadi silaturami bersama setiap orang bersama kenangan yang pernah mewarnai hidupnya.
Semoga, setiap perjumpaan dan kebersamaan yang telah dan akan tercipta membawa kedamaian. Menuntun pada jalan keberkahan Sang Pengeran. Andaikan tahun ini harus menunda bukan berarti kita melupakan esensi nilai yang ingin diraih. Jarak bukan alasan. Kedekatan kita semua sesungguhnya telah bersemayam pada hati setiap masing-masing jiwa.
Surabaya, 15 Mei 2020
Lapiran: Foto-foto

Komentar
Posting Komentar