Selayang Pandang
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Ditengah pembatasan sosial bersekala besar (psbb) oleh pemerintah saya mencoba untuk kembali belajar menulis. Keinginan tersebut tiba-tiba bangkit begitu saja. Walau secara kualitas mungkin rendah, tetapi saya pikir harus tetap disalurkan. Kalaupun ada bumbu-bumbu sedikit narsisme mohon dimaklumi.
Pemilihan blog sebagai tempat mencurahkan pikiran ini tak lepas dari kegaduhan media sosial. Ruang-ruang media sosial telah banyak tercemar. Perdebatan tentang suatu isu lebih banyak berakhir dengan menyeret persoalan pribadi. Pelaporan sakit hati bertopeng pelanggaran UU ITE juga kerap terjadi. Jangkauan dan viralnya sebuah pendapat kadang tidak sebanding dengan dampak harus ditanggung.
Melalui blog, saya rasa kita lebih bisa leluasa mengungkapkan gagasan tanpa perlu takut terkena batasan karakter. Facebook mungkin mewadahi itu, hanya saja adanya fakta kemungkinan terbanned atau sifatnya yang lebih mudah diawasi oleh pihak-pihak tertentu akan mengganggu privasi. Buzzer-buzzer terkadang kelewat kejam ketika menyanjung atau menjatuhkan seseorang. Terkadang sudah masuk terhadap ranah cyberbullyng.
Sederet kenyataan diatas bukan membuat saya takut. Tetapi saya lebih memilih jalan lain. Dengan mengungkapkan gagasan lewat blog akan memaksa kita menulis lebih banyak. Kemungkinan kesalahpahaman datang akan bisa diminimalisir. Faktor lain ialah keinginan meningkatkan semangat literasi. Sebab dengan banyak menulis kita secara tidak langsung diharuskan banyak baca pula.
Salah satu inspirasi saya semangat menulis blog adalah Dahlan Iskan. Ia setiap hari menuliskan satu catatan menarik pada situsnya Disway.id. Kontenya sangat segar terkait isu-isu tidak populer tetapi menarik dan perlu diketahui oleh publik.
Kemudian dengan blog profiling kita di dunia maya akan beda. Lewat arsip tulisan-tulisan orang lain akan memandang gagasan kita. Sesuai apa yang kita sajikan. Bandingkan dengan memprofiling seseorang lewat media sosial. Hal-hal paling mudah ditemukan adalah jejaring kita berafiliasi dengan siapa, gaya hidup seperti apa, sampai mengukur kemungkinan tingkat kepribadian.
Ditengah kecepatan dan kemudahan akses informasi itulah privasi akan menjadi berharga. Privasi kita di dunia maya menentukan perlindungan terhadap kejahatan cyber. Di internet tidak hanya berisi orang-orang baik. Mereka yang mecari keuntungan lewat kejahatan peretasan tak pernah benar-benar hilang walau para pelaku lama telah diamankan oleh pihak berwajib.
Kita semua harus andil bagian membendung upaya publikasi informasi pribadi. Caranya sekali lagi mengubah pola pikir terhadap keinginan menampilkan sesuatu di publik. Tidak mengkespose siapa diri kita ini, tetapi mengeksplore ide-ide orisinil kita miliki.
Keabadian kenangan seseoran tak akan pernah dinilai karena tampilan fisik. Selalu karya yang ia tinggalkan. Sosok cantik dan ganteng mudah tergantikan dengan generasi-generasi lebih baru. Tumpukan kekayaan ketika sudah habis mudah terlupakan. Satu-satunya pegangan paling awet bisa kita wariskan adalah tulisan. Seperti kata Pramoedya Anantatoer, "menulis adalah bekerja untuk keabadian".
Apabila ada membaca ini dan kebetulan mempunyai blog silahkan tinggalkan komentar. Saya akan mengunjungi balik sebagai balasan kunjungan anda. Jika kebetulan isinya cukup menarik, tentu akan saya cantumkan dalam blogroll.
Surabaya, 16 Mei 2020.
Terimakasih
Wassalamu'alaikum wr. wb

Komentar
Posting Komentar