Baik
Semenjak kecil manusia sudah diperkenalkan nilai-nilai kebaikan universal. Seperti, mencuri itu tidak baik, kita harus bersikap ramah terhadap sesama, menyayangi binatang, tidak merusak alam dan masih banyak lagi. Saya pikir hari ini semua orang juga masih setuju kalau anaknya diberi pengajaran demikian. Tujuanya satu, mendidik manusia berbudi baik.
Baik, sebagai sebuah role model memerlukan oposisi untuk menegaskan posisinya. Pada laku sempurna untuk umat beragama role modelnya para nabi-nabi. Ia terbebas dari dosa dan terjaga dari noda keburukan karena kekuatan imannya sehingga dijaga oleh sang Ilahi. Orang muslim menyebut sebagai ”maksum.”
Lantas saat semua orang menghendaki kebaikan bagaimana mungkin tercipta sisi gelap kejahatan? Benarkah semua karena ulah setan? Apakah Tuhan senang jika semua manusia baik?
Distingsi antara baik dan buruk faktanya akan berubah-ubah sesuai faktor umur, agama, suku, serta referensi pengetahuan dimiliki. Sewaktu kecil batas garis antara baik dan jahat itu terlihat sangat jelas. Tapi lama kelamaan itu akan memudar. Dulu dianggap baik bisa menjadi jahat, dan adakalanya jahat bisa dianggap baik dalam situasi tertentu. Dalih ambil peran besar disini. Itulah mengapa meski manusia menciptakan pengadilan, terkadang masih belum bisa memenuhi rasa keadilan.
Setya Novanto salah seorang maling uang rakyat tepatnya anggaran pengadaan KTP Elektronik pada tahun 2011-2012 yang mengakibatkan kerugian negara 2,3 trilyun lebih. Hakim tindak pidana korupsi memvonis 15 tahun penjara, denda 500 juta, dan pencabutan hak politik 5 tahun. Kendati demikian sangat mungkin Setya Novanto merasa masih menjadi orang baik.
Bagaimana tidak, ditengah gempuran kecaman dan hujan cacian setiap tampil dihadapan media ia masih tersenyum ramah, santun, dan kalem. Ditambah kata andalan ”saya tidak tahu,” ”saya tidak kenal,” ”kita mengikuti proses hukum yang berjalan saja,” ”saya difitnah,” dsb.
Sebagai rakyat yang dizolimi oleh wakilnya sangat masyarakat akan mengutuk keras. ”POLITIKUS KEPARAT, BUSUK, LAKNAT," dan tentu tidak akan memaafkan sebelum mengetahui bagaimana susahnya sebagai rakyat kecil mengurus E-KTP akibat ulahnya. Berdasar pengalaman pribadi serta cerita keluhan tetangga pengurusan E-KTP tahun-tahun itu sangat menyita waktu sampai berhari-hari. Kehabisan blangko dan hanya diberi selembar surat keterangan terjadi dimana-mana. Ditambah ketidakpastian waktu selesai.
Bagi saya pribadi jarak antara rumah dengan kantor catatan sipil lebih dari 80 km dengan medan jalan naik turun gunung. Disinilah kepala urusan (Kaur) desa memiliki andil rangkap proyek sebagai calo. Jika mengurus sendiri biaya yang dikeluarkan gratis, maka kalau titip Kaur dikenakan biaya sekitar 300 ribu dengan jaminan 3 bulan selesai.
Disinilah kontradiksi nilai terjadi. Bagi keluarganya si keparat maling uang rakyat Setya Novanto yang kini kehormatanya lebih rendah dari anjing dan babi bisa jadi ia tetaplah sosok yang baik. Ikatan darah telah melahirkan hutang budi. Biasanya sangat susah bersikap objektif. Apalagi perannya dikeluarga begitu banyak menyenangkan anak dan istri lewat materi yang berlimpah hasil korupsi.
Tentu publik ingat dan semoga tidak terlupakan oleh sejarah sampai kapanpun. Bagaimana tragedi drama kecelakaan mobil dan sulap benjolan sebesar bakpao oleh maling busuk itu diperankan bersama pengacaranya Fredrich Yunadi akhirnya menjadi tertawaan. Semakin konyol ketika para kreator meme pun turut dilaporkan karena dianggap mencemarkan nama Novanto yang sudah membusuk.
Untuk orang yang sok sebagai polisi moral teringat kenyataan bahwa akan mudah bersikap menghakimi kalau pelaku adalah orang lain. Bagaimana andaikan itu adalah ibumu. Apakah kamu rela menyakitinya dengan mengatakan kebenaran dan pada akhirnya mengantarkan pada kematiannya lebih cepat sebelum ajal menjemput?
Kalaupun kamu memberikan pemakluman, apakah berarti standart kebaikkan itu bagimu yang penting baik buatmu? Jangan-jangan selama ini kita tanpa sadar juga telah menjadi pelaku-pelaku keburukan kemudian terbiasa dan akhirnya menjadi kebiasaan untuk dimaklumi. Seperti lebih suka menuduh dari pada bertanya, gampang membuat kesimpulan tanpa mau mendengar masukan, serta selalu merasa suci karena beranggapan telah berpegang pada titik kebenaran. Semoga tidak.
Surabaya, 10 Juli 2018
Iskak

Komentar
Posting Komentar