Wong Ndeso Wajib Belajar dari Bambang
Inspirasi bisa datang dari siapa saja. Tanpa mempertimbangkan latar belakang. Begitulah saya melihat Bambang. Ia adalah teman, tetangga, sekaligus sahabat. Untuk beberapa hal saya kagum kepadanya. Pertama, tentang imajinasinya, kedua tentang keteguhan istiqomahnya terhadap literasi, ketiga, pemahaman otodidaknya tentang teknologi. Saya yakin kalau tingkat keilmuan ketiga bidang tadi bisa diukur, nama Bambang akan bertengger menjadi juara pertama. Minimal se level desa kami.
Bukan tanpa penjelasan saya membesar-besarkan nama Bambang. Pertama tentang imajinasi. Setiap kali kami bersama tak pernah sekalipun Bambang kekurangan bahan cerita. Ia bisa menggambarkan dengan baik banyak cerita-cerita tentang dunia kerajaan, budaya-budaya barat, dan kebesaran timur tengah. Padahal guru-guru kami disekolahpun tak pernah bercerita tentang itu.
Bagi orang awam cerita Bambang aneh. Kerap di cemooh sebagai tukang ngedupluk. Saya tak peduli, terlepas dari banyak gunjingan tentang Bambang cerita ia bawakan sangat menarik.
Setelah kian kemari, saya paham apa yang sebenarnya Bambang kecil ceritakan. Semua itu bersumber dari majalah Kuncup, majalah Andaka, buku-buku tentang percobaan sains, biologi, dan seni. Inilah mengapa orang-orang tidak bisa mengikuti jalan pikiran Bambang waktu itu. Dirinya berbicara jauh diatas pengetahuan orang disekitarnya. Seingat saya hanya pak Tri seorang guru muda yang menangkap pemikirian Bambang.
Kedua konsistensinya terhadap berliterasi. Dari awal masuk
sekolah dasar, Bambang merukapan satu-satunya siswa yang saya tahu
menjadi penggemar buku. Padahal di desa membaca buku sangat tidak lumrah dan langka. Andaikan dilakukan survei, mungkin buku yang paling banyak dibaca orang hanya 2 buku. Buku
Yasin dan Al-Quran. Buku yasin sering dibaca karena banyak orang
tidak hafal saat kegiatan Yasinan rutin malam Jumat. Sedang Al-Qur’an
merupakan kitab suci bagi umat Islam.
Kehausan akan ilmu pengetahuan dimiliki Bambang sangatlah besar. Ia sampai saat ini masih aktif membaca buku, menulis, dan menonton film. Banyak orang ketika sudah bekerja meninggalkan itu semua beralih fokus mencari uang.
Perbedaan tersebut yang membuat saya yakin bahwa Bambang memiliki ketajaman berfikir diatas rata-rata. Ketika aneka godaan untuk terus menumpuk materi dan tawaran gaya hidup layaknya orang kota pendirianya benar-benar kokoh. Pengalamannya melanglang buana merantau ke berbagai kota di tanah jawa tak merubah orisinilitas dimiliki sebagai orang desa.
Ketiga tentang pengusaannya terhadap teknologi. Memang keahliannya didapat secara otodidak. Tetapi ia cukup jenius teknologi berfikir mengembangkannya menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Di desa Bambang saya anggap sebagai guru tentang seluk beluk dunia internet dan teknologi. Sebagai gambaran singkat tentang kehebatan Bambang dalam bidang ini gambaranya demikian.
Kalau kamu apa yang akan dilakukan saat jaman internet untuk mengakses jaringan edge (2G) sesekali 3G harus pergi ke puncak gunung dan menggunakan paket midnight? Mungkin sekadar surfing dan download. Tapi bagi bambang melebihi itu. Berbekal keterbatasan tersebut bisa digunakan untuk mengakali akses celah internet gratis. Mempraktekkan akses batasan penggunaan ponsen pintar dengan hack sistem operasi waktu itu digunakan adalah simbian. Kemudian mengkonfigurasi ulang aplikasi-aplikasi pihak ketiga. Tidak lupa menginstall game dan banyak aplikasi berbayar secara gratis, serta mengkostumisasi tampilan ponsel.
Kenangan paling saya ingat waktu itu kami berdua pernah sama-sama mengisntall aplikasi chatting whatsapp saat belum diakuisisi facebook seperti sekarang. Ketika dibuka, ada gambar anak kecil yang mengacungkan tangan kearah bulan purnama seakan-akan mau menggapai. Sayangnya kami tidak bisa menggunakan secara optimal karena tidak berhasil menemukan user lain. Pernah suatu waktu minta kepada kakak agar bersedia diistal ke handphonenya. Hasilnya ditolak. Alasanya ribet dan masih lebih mudah berkirim pesan lewat fitur sms.
Diam-diam orang-orang desa sebenarnya mengakui kepintaran Bambang. Tetapi mereka tetap memandang sebelah mata, menganggap bahwa apa yang dilakukan merupakan kesia-siaan belaka. Bagi orang desa kala itu, sesuatu berguna jika melakukan kegiatan menghasilkan materi.
Sekolah juara kelas dan mendapat buku tulis atau baju seragam baru itu berguna. Membantu orang tua seharian diladang itu berguna. Mengambil air dari sumber-sumber mata air untuk dipikul kerumah itu berguna. Menggendong hasil pertanian dari ladang ke rumah itu berguna. Begitulah faktanya, kalau hari ini pandangan itu masih ada berarti ia merupakan orang sisa-sisa peradaban tua.
Jalan hidup memang sebuah misteri tersendiri bagi setiap orang. Begitupun Bambang bersama semua anak-anak lain sepantaran di desa kami. Kemiskinan telah membutakan para orangtua dengan mendorong anak-anaknya secepat mungkin menghasilkan materi. Ketika si anak telah bekerja merantau dan menghasilkan uang, maka beban orang tua akan ringan dan setengah mengharap akan dimudahkan anaknya. Demikianlah pemikiran banyak anak banyak rejeki menemukan kebenaranya.
Kini struktur sosial dan budaya pedesaan sedikit demi sedikit berubah menjadi kompetitif. Masyarakat tidak bisa lagi mempertahankan sisa-sisa pandangan lama. Generasi-generasi jenius seperti Bambang sangat dibutuhkan untuk mereformasi cara berfikir masyarakat. Orientasi mengejar materi harus ditekan dibawah kepentingan regenerasi dan pembaruan wawasan secara berkala.
Strategi bertahan bagi orang-orang kecil era modern terletak pada kemampuan sumber daya manusia. Kasus di beberapa tempat investor-investor sudah mulai masuk desa dan melakukan akuisi tanah rakyat sepihak secara paksa untuk pembangunan pabrik, tambang, dan perkebunan. Dengan bekal asset pengetahuan dan sumber daya manusia berkualitas kita bisa melawan atau bermanuver menjalankan kehidupan baru.
Langkah kecil seperti apa yang dilakukan Bambang bisa kita ikuti. Seperti soal literasi. Dengan banyak membaca dan menulis, wawasan pengetahuan kita menjadi luas. Selanjutnya semangat berliterasi diikuti dengan membangun jaringan. Dengan begitu kita sebagai masyarakat akan menjadi kuat dan saling menguatkan. Kemudian terkait teknologi. Teknologi hadir untuk mempermudah kinerja manusia. Ingatan kita mungkin terbatas dan kemampuan berhitung yang lambat. Memutuskan belajar tentang teknologi dan penggunaan PC minimal satu rumah tangga satu itu akan sangat membantu manajement kegiatan dan perencanaan masa depan.
Setiap orang pasti memiliki kelemahan. Kita tidak boleh lagi melihat dulu. Minimal mari kita mencoba untuk mendengarkan dahulu. Tergesa-gesa menyimpulkan dari hasil sekilas pandang merupakan kesalahan besar. Merugikan diri sendiri dan melewatkan kesempatan yang mungkin belum tentu datang kembali.
Surabaya, 31 Mei 2020

Komentar
Posting Komentar