Perjuangan Pembebasan Palestina dan Jihad Negara Islam
Upaya pengukuhan legalitas penjajah Israel sebagai sebuah negara berdaulat terus dilakukan oleh Amerika. Kali ini (28/01/2020) president Donald Trump mengajukan proposal sepihak yang kurang lebih berisi akan mengakui Palestina sebagai sebuah negara jika bersedia kekuasaanya berada dibawah ketiak otoritas Israel. Sungguh sebuah kegilaan yang sulit bisa diterima akal sehat.
Bisa kita bayangkan bagaimana jika ada sebuah tamu di rumah anda, tiba-tiba tamu tersebut melakukan klaim bahwa rumahmu adalah miliknya. Begitulah penggambaran paling sederhana akar konflik di tanah Palestina. Hanya saja landasan yang digunakan berdasarkan kisah kitab suci.
Jika ada yang bilang bahwa peristiwa konflik antara penjajah Israel dan negara Palestina soal Sara memang betul. Mulanya sekelompok orang Yahudi pada tahun 1897 menggalang kekuatan milisi untuk merebut tanah yang dijanjikan. Singkat cerita kelompok ini kemudian kita kenal dengan Zionis.
Sejak saat itu konflik fisik terus terjadi tiada henti. Dalam rentang pertikaian panjang itu melewati berbagai penanda upaya perdamaian. Amerika yang notabenya negara induk penjajah Israel bersama PBB membagi wilayah palestina menjadi dua negara pada tahun 1948. Tahun ini pula yang dianggap sebagai pengakuan bahwa penjajah Israel telah resmi berdiri sebagai negara. Namun segenap umat Islam bersama negara-neraga yang berkomitmet dengan kemanusiaan tidak mengakui.
Disaat yang bersamaan tren global sedang bergerak mendorong negara-negara di dunia merdeka dari aneka kolonialisasi. Penjajah Israel bersama yahudi Amerika justru terus bergerak merongrong melawan arah. Istilah menjunjung tinggi HAM tiba-tiba saja tidak berlaku untuk penjajah Israel yang notabenya dilahirkan dari negara barat.
Mengutip artikel Akhmad Muawal Hasan dengan judul ”50 Tahun Perang 6 Hari dan Pendudukan Israel” di tirto data kekejaman penjajah Israel sungguh luar biasa biadab. Pertama koflik awal hingga tahun 1959 diperkirakan 2-5 ribu rakyat Palestina dibunuh. Tahun 1967 12 ribu warga Palestina diusir paksa dari tanah kelahirannya. Rentang 2008-2014 ada sekitar 2 ribuan warga Palestina kembali dibunuh.
Jika ada stigmatisasi media bahwa umat Islam itu kejam, radikal, gampang membunuh, dan lekat dengan teroris berdasarkan kenyataan di lapangan jelas masih lebih biadad penjajah Israel.
Ada istilah ”semutpun akan menggigit ketika diinjak”. Saya sungguh tidak sedang membenarkan tindakan martir bom bunuh diri dari pihak manapun. Tetapi ingin menegaskan bahwa kondisi konflik di timur tengah utamanya Palestina sangat pelik dan diliputi rasa frustasi. Mereka memang memperjuangkan kebenaran, tetapi secara hitung-hitungan diatas kertas kekuatan militer rakyat Palestine tidak sebanding. Penjajah Israel yang disuplai Amerika memiliki teknologi perang modern. Sementara jihadis Palestina begitu rapuh bersenjatakan apa adanya.
Bagi umat Islam darah mereka yang syahid melawan Penjajah Israel ialah benteng-benteng penyangga gerakan penyatuan. Solidaritas akan semakin terjalin kuat demi mempertahankan hak warisan sejarah umat Islam utamanya Masjidil Aqsa. Percikan-percikan gerakan perlawanan kepada penjajah Israel sampai kapanpun akan terus tumbuh dan tak akan padam.
Saat ini negara-negara muslim sedang tersandra dan tergantung kepada dua poros besar dunia. Amerika dan Cina. Melepaskan ikatan atau memilih berkiblat kepada salah satunya saja juga bukan solusi. Sistem perekonomian modern telah menjadi jangkar-jangkar pengikat lain lebih kuat dibanding ideologi. Karena berkaitan dengan negara.
Permasalahan Dunia Islam ditimbulkan oleh semacam kekeliruan dalam menggerakkan orientasinya sebagai sebuah negara. Mengikuti kemajuan barat tetapi tidak siap secara politik dan lemahnya sendi-sendi sosial. Secara internal ketika ada pergesekan mudah membara menjadi konflik fisik.
Setelah ada ISIS kita tahu tekanan terhadap penjajah Israel semakin lemah hampir tidak ada. Negara-negara Islam yang tidak sepaham dengan barat dihancurkan lewat perang saudara yang oleh barat disebut sebagai musim semi.
Ditengah kekacauan intervensi pihak-pihak luar yang bekepentingan mengeksploitasi sumber daya alam terutama minyak semakin mudah. Ketika ada satu kelompok sudah mau menang maka akan diimbangi dengan bantuan asing, begitu seterusnya. Sulit menentukan siapa pihak pemenang. Dilain sisi negara Islam yang damai selalu iming-imingi jalan menuju kemajuan.
Cara ditawarkan negara-negara super powet tetap sama. Menggenjot ekpoitasi alam sebanyak mungkin tanpa peduli dampak kerusakan lingkungan ditimbulkan. Kontradiktif dengan perintah Tuhan bahwa manusia sebagai rahmat bagi alam semesta. Mengapa ini bisa dengan mudah terjadi? Karena banyak pejabat pemerintahan silau dan buta oleh imbalan uang diberikan. Benar, mereka telah menjual tanah air, dan rakyatnya sendiri.
Di Indonesia kita beruntung. Walau kelompok-kelompok Islam progresif tidak berkuasa, sangat aktif mengkritisi dan kompak melakukan aksi sosial. Terutama terkait kampanye masalah umat Islam di Palestina ataupun di Uighur. Bagi sebagian kelompok nasionalis memang sedikit mengusik kenyamanan mereka. Tetapi bagi umat Islam ini adalah setitik harapan semangat berjuang bagi umat muslim lain yang tengah berada di daerah konflik.
Surabaya, 29 Januari 2020

Komentar
Posting Komentar